Ngalaksa

RANCAKALONG, merupakan sebuah desa sekaligus Kota Kecamatan Rancakalong, Kab Sumedang. Sebagian besar penduduknya, sejak masa silam hingga kini, mengandalkan hidup dari bersawah dan bercocok tanam. Karena itu pula, kultur masyarakat daerah ini seakan tetap menyatu dengan alam sekitar. Sistem nilai, tradisi, dan seni budaya, masih cukup melekat di sana.





Di daerah itu masih cukup banyak kebiasaan dari para leluhur, dipertahankan menjadi semacam adat atau tradisi. Selain dapat dilihat dari banyaknya even kesenian dan tradisi yang kini menjadi agenda pariwisata, seperti upacara adat ngalaksa dan rayagungan, beberapa jenis kesenian tradisional masih tetap mewarnai kehidupan warga di sana. Bahkan, desa ini pula memiliki kawasan desa wisata sebagai miniatur kebudayaan masyarakat sekitar, sekaligus sentralisasi budaya setempat untuk dipragmentasikan kepada masyarakat.
Meski kemasannya berbeda, upacara rayagungan dan ngalaksa yang rutin digelar setiap tahun, memiliki makna dan tujuan yang sama, yaitu sebagai pendorong motivasi dan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh masyarakat di sana. Hanya saja, bila tradisi rayagungan yang upacara ritualnya lebih menonjolkan figur para pendekar dan paranormal dan baru digelar ke tiga kali, sedangkan upacara adat ngalaksa sudah ada sejak masih zaman penjajahan Belanda.


Upacara yang tak hanya diwarnai pementasan kesenian jentreng tarawangsa, tapi juga dengan ritual yang penuh makna sebagai penghormatan pada Tuhan YME, alam dan sesama manusia, yang semuanya berpusat kepada dewi segala dewi, Dewi Sri yang di kalangan masyarakat Sunda dikenal dengan sebutan Sang Hiang Sri atau Nyi Poha Aci.

Dulunya Ngalaksa dilaksanakan 3 atau 5 tahun sekali, dikaitkan dengan jadwal bersawah. Seperti halnya tradisi masyarakat agraris, Ngalaksa dimaksudkan menghormati arwah leluhur yang telah berhasil mencari dan mempertahankan bibit padi, juga sebagai rasa syukur atas keselamatan, dan rezeki yang dilimpahkan dalam kehidupan petani.

Awalnya Ngalaksa dilakukan orang perorangan/keluarga. Kini, upacara dilakukan secara bergilir setiap tahun oleh warga rurukan se-Kec. Rancakalong dan ditempatkan di Kampung Rancakalong.


Upacara Ngalaksa diawali dua minggu sebelumnya dengan dilakukan bewara. Tetua adat memberitahu seluruh tokoh adat mengenai waktu pelaksanaan upacara adat Ngalaksa.

Setelah bewara disebar langkah selanjutnya dilakukan Ngayu. Dalam bahasa Sunda ngahayu-hayu atau mengajak warga untuk bersama menyiapkan keperluan upacara.

Kesanggupan warga untuk melaksanakan upacara ditindaklanjuti melakukan Mera. Suatu bagian dari rangkaian kegiatan berupa membagi-bagi tugas dan bahan yang harus dibawa masing-masing warga rurukan.


Setelah semua selesai baru ritual Ngalaksa diadakan. Dimulai dari Meuseul Bakal, yaitu prosesi menumbuk padi diiringi rajah atau doa-doa yang dilakukan sejak 4.00 WIB dan baru akan berakhir menjelang tengah hari. Setelah Meuseul Bakal, dilakukan ritual Ngibakan atau Digeulisan. Ritual ini adalah mencuci beras dengan menggunakan air combrang atau kembang laja.

Usai ritual Ngibakan atau Ngageulis, beras yang sudah dicuci dimasukan keruangan Pangineuban. Yaitu ruangan yang berada di bangunan panjang disebut bale-bale.

Selama tiga hari tiga malam, warga adat melakukan tarian yang diiringi Jentreng Tarawangsa. Didahului oleh penari pria yang biasanya seorang ketua adat sebagai penari pembuka. Jentreng Tarawangsa berlangsung semalam suntuk. Sebuah pagelaran yang hanya diiringi alat musik sederhana, biola purba dua dawai dan jentreng atau kecapi dengan tujuh dawai.

Alunan musiknya terasa lamban dan monoton, namun itulah yang membuat pendengar hanyut terbawa alunan musik. Konon, bila salah seorang penari mengalami trance, pertanda Dewi Sri menerima penghormatan mereka.
Beras yang disimpan selama tiga hari tiga malam, memasuki hari keempat diambil dan kembali ditumbuk dalam prosesi nipung. Ritual selanjutnya tepung beras diberi bumbu berupa air combrang, kelapa, gula merah dan apu (kapur) sebagai bahan pengawet. Untuk seterusnya dibungkus daun congkok dan kemudian dibagikan kepada seluruh warga adat.

Rurukan Pasir Biru mendapat tugas melakukan kegiatan ritual Ngalaksa yang diadakan di Kampung Budaya Rancakalong. Dipimpin sesepuh adat Pasir Biru selama lima hari warga akan melakukan seluruh rangkaian prosesi Ngalaksa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar